Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2013

Cara Towil menjual konten lokal

Merdeka.com - Akhir pekan lalu saya ke Yogya menemui arsitek Eko Prawoto yang dikenal dekat dengan almarhum Romo Mangun. Dalam perbincangan, tiba-tiba menyerempet nama seseorang: Muntowil. Dia adalah pemuda yang berhasil "menjual" wajah desanya tanpa mengambil atau merugikan secuilpun. Tidak mengeruk emas, batubara, atau bahkan pasir juga tidak. Dia tiba-tiba menjadi magnet buat saya untuk harus mengenalnya. Dialah Muntowil yang akrab dipanggil Towil. Berusia 40-an tahun lebih, hanya lulusan SMA, tinggal di desa Sentolo, Kulonprogo, DI Yogya -sekitar 20 km dari kota Yogya arah ke barat. Lelaki gondrong ini punya hobi yang akut: bersepeda alias ngonthel alias gowes. Sehari-hari, hidupnya gowes-gowes sepeda kuno. Pendek kata, bangun tidur langsung pegang sepeda dan sebelum tidur pegang sepeda. Saat ini, sebanyak 60 sepeda dari berbagi merk kuno buatan Eropa, China, dan lokal dia miliki antara lain Phoenix, Humber, Gazele, dan lain-lain. Apa yang istimewa dari Towi...

Efek WOW dan WOM

Merdeka.com - Dalam beberapa pekan ini, tiba-tiba nama perempuan dari Cilimus, Kuningan, Jabar, menyeruak ke permukaan. Dialah Bunda Putri, perempuan berumur yang tiba-tiba menggoyang jagat perpolitikan Indonesia gara-gara disebut oleh tersangka koruptor daging sapi Lutfi Hasan Ishaaq dalam sebuah persidangan. Karena dikaitkan dengan Presiden, maka SBY pun kian membuat Bunda Putri terkenal. Siapa dia? Banyak pihak gemes dan geregetan. Sebab, ternyata ada orang-orang yang tidak diketahui selama ini sepak terjangnya secara umum, ternyata memiliki kelas tersendiri. Terbukti, di kalangan kabinet, dia memiliki kedekatan dengan banyak orang, paling tidak dari fakta foto yang beredar. Diakui oleh Lutfi dan juga oleh petinggi partai PKS, namun oleh SBY dibantah. Apakah kolom inspira kali ini membahas soal politik atau korupsi ? Tentu tidak. Namun, ada hal yang bisa dikaitkan dengan Bunda Putri. Andaikan BP itu sebuah barang atau produk, maka kita bisa bayangkan bahwa barang itu...

Bisnis gaya Mak Beng vs Toserba retail

Merdeka.com - Setiap usaha bisnis selalu bicara soal produk dan margin (keuntungan). Dalam mengambil keuntungan, adalah melihat berdasarkan seberapa besar (peluang) dan potensinya. Apakah potensinya ada, bisa diperbesar, atau memang terbatas. Ketika dihadapkan pada peluang, maka tantangannya adalah kapan diambil peluang itu dan apakah segera dihabiskan peluang itu "hari ini juga" lalu besok mencari lagi sesuatu yang baru? Atau, kita ambil peluang/kesempatan itu, namun kita tidak habiskan saat ini juga. Justru, kita pertahankan pasar itu alami dengan harapan secara jangka panjang tetap tumbuh tidak mati-mati. Mungkin agak membingungkan memaknai hal di atas. Akan lebih mudah dicerna bila langsung kita sampaikan dengan contoh. Bagi Anda yang pernah ke Bali, coba luangkan untuk ke pantai Sanur. Maka, di sana akan bisa ditemui sebuah warung ikan goreng dan sup ikan Mak Beng. Warung ini buka jam 10-an pagi, dan habis jam 15.00 sore. Bahkan kalau hari Sabtu dan Minggu bi...

Berbisnis Dengan Kebaikan Hati

Alih-alih mengenalkan konsep baru pada layanan pelanggan, inilah saatnya mengenalkan kembali kebaikan yang sudah lama memudar ..   Kembali ke "HATI," jika Anda ingin sukses dalam bisnis, semuanya terkait dengan KEBAIKAN HATI dan apa yang dirasakan seseorang setelah melakukan transaksi bisnis dengan Anda. Inilah yang membuat mereka terus kembali, meski produk Anda biasa-biasa saja.    Mari kita lihat, kita semua ingin diperlakukan dengan baik di setiap aspek kehidupan kita. Tapi saat ini sudah mulai memudar karena kecanggihan teknologi dan dunia korporat yang bergerak cepat.    Namun pertimbangkan ini, ada sebuah cara untuk berbisnis dibawah kondisi yang menekan dengan mengadopsi filosofi ‘lama’ yang akan membuat Anda berbeda dan unik serta tidak menguras biaya.  Pada kenyataannya, ini akan menghemat uang karena orang yang BAIK HATI dan BAHAGIA lebih bersemangat dalam bekerja dan betah di perusahannya.    M...

Kenapa Pembeli Lebih Suka Harga Mahal?

Gambar
  Menjual Produk Lebih Mahal kepada Pelanggan Anda (up-selling) Alhamdulillah , acara KPMI Expo telah sukses dilaksanakan selama 3 hari di Museum Penerangan Kominfo TMII Jakarta. Korwil-korwil berbagai kota mengikuti agenda tahunan dari Komunitas P engusaha Muslim Indonesia . Acara Rakornas KPMI ini dikemas dengan berbagai macam seminar, kajian dan pameran produk. Dimana setiap korwil berhak mendirikan stand untuk memamerkan produk bisnisnya. Suatu kali saya mendapat tugas dari kantor untuk Rakornas KPMI dan mendampingi teman-teman yang ikut pameran. Stand tersebut memajang berbagai macam produk mulai dari buku, herbal, majalah dan permainan edukasi. Diantara produk yang menjadi prioritas penjualan kami adalah majalah Pengusaha Muslim edisi lama. Kami membawa ratusan exemplar majalah yang rencananya akan kami obral khusus acara KPMI Expo Kami mencoba berembuk untuk menentukan harga jual majalah, dan saya usulkan Rp. 5.000,-/majalah dan Rp. 20.000,-/5 maj...