Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2013

Anda, Masa Lalu, dan Kebiasaan Soal Uang

Hubungan sikap hidup dengan kesuksesan finansial Anda Mengatur keuangan bukan sekadar hitungan matematis. Sikap dan cara pandang, alias attitude, Anda terhadap uang justru lebih menentukan. Perencanaan keuangan seolah sekadar proses dapat pemasukan, membaginya dengan disiplin untuk membayar utang, belanja kebutuhan barang maupun jasa sehari-hari, serta mengalokasikan untuk simpanan. Selanjutnya sejahtera. Namun, bertahun-tahun menjalani profesi sebagai perencana keuangan, saya menemukan beragam kasus keuangan klien dengan latar belakang berbeda. Nyaris tidak ada satu pun kasus yang sama. Beda latar belakang, beda pula masalah keuangannya. Karena itulah, resep sukses seseorang dalam mengelola keuangan tidak bisa dengan mudah ditiru orang lain. Saya pernah bertemu lajang dengan penghasilan belasan juta per bulan. Apesnya, kekayaan bersih – harta dikurangi kewajiban - si lajang malah minus. Idealnya, dia punya aset lebih banyak dibanding yang bergaji lebih kecil. Menurut saya, ini masalah...

Kisah Supir Taksi dan Kecukupan Finansial

Beberapa waktu lalu, sejumlah pembaca bertanya di artikel "Anda, Masa Lalu, dan Kebiasaan Soal Uang"  Kali ini, kami kembali menjawab satu pertanyaan pilihan dari pembaca. Anda punya pertanyaan lain? Silakan tinggalkan di kolom komentar. Pertanyaan: Mengapa orang cenderung merasa tak cukup dengan uang, walau gaji sudah besar? (Arya) Hai Arya, saya ingin berbagi kisah yang saya peroleh ini pada Anda dan pembaca lain. Suatu malam, dalam perjalanan dengan taksi, saya berbincang dengan supir. Menurut saya cukup menakjubkan. Si supir bercerita, setiap hari dia harus memenuhi target pendapatan Rp450 ribu agar bisa bawa pulang komisi 15 persen. Dengan lain kata, penghasilannya Rp67.500 per hari atau Rp2.025.000 per bulan dengan waktu kerja 30 hari. Tentu saja pendapatan pegawai negeri lebih besar dari supir taksi ini. Supir taksi ini pensiunan pegawai negeri golongan 3A dengan pendapatan rutin dari pensiun Rp3 juta per bulan. Pilihan menjadi supir bertujuan agar tidak stres saat men...

Perlunya seorang assist atau sherpa

Merdeka.com - Seorang karyawan keuangan -sebut saja Haryo- yang sudah bekerja di perusahaan kaliber MNC (multi national company), tiba-tiba datang menemui saya. Dia merasa jenuh bekerja di perusahaan lamanya dan ada sedikit masalah dengan atasannya. Dia lalu mengundurkan diri dan ingin bergabung dengan perusahaan temannya yang lain, lalu minta pertimbangan pada saya. Dengan gaji yang sudah mendekati dua digit, saya tidak yakin perusahaan temannya mampu memberinya gaji sebesar itu. Benar, nyatanya dia tidak bisa mendapatkan gaji mendekati dua digit. Bukan soal kemampuannya yang menjadi kendala, tapi karena perusahaan yang akan dimasuki itu -meski punya temannya yang kenal baik-, adalah perusahaan yang baru berdiri sehingga belum mampu memberikan gaji sebesar yang diharapkan. Kalaupun mampu, masih di bawah Rp 5 juta/bulan. Keuangan oleh sebagian besar orang, memang dianggap sebagai inti tapi tetap saja fungsinya sebagai orang pendukung (back end/support). Tidak ada perusaha...