Kenapa Pembeli Lebih Suka Harga Mahal?
Menjual Produk Lebih Mahal kepada Pelanggan Anda (up-selling)
Alhamdulillah,
acara KPMI Expo telah sukses dilaksanakan selama 3 hari di Museum
Penerangan Kominfo TMII Jakarta. Korwil-korwil berbagai kota mengikuti
agenda tahunan dari Komunitas P
engusaha Muslim Indonesia.
Acara
Rakornas KPMI ini dikemas dengan berbagai macam seminar, kajian dan
pameran produk. Dimana setiap korwil berhak mendirikan stand untuk
memamerkan produk bisnisnya.
Suatu
kali saya mendapat tugas dari kantor untuk Rakornas KPMI dan
mendampingi teman-teman yang ikut pameran. Stand tersebut memajang
berbagai macam produk mulai dari buku, herbal, majalah dan permainan
edukasi.
Diantara
produk yang menjadi prioritas penjualan kami adalah majalah Pengusaha
Muslim edisi lama. Kami membawa ratusan exemplar majalah yang rencananya
akan kami obral khusus acara KPMI Expo
Kami mencoba berembuk untuk menentukan harga jual majalah, dan saya usulkan Rp. 5.000,-/majalah dan Rp. 20.000,-/5 majalah...
Pagi itu saya tulis pengumunan di selembar kertas:
Obral ! 1 - Rp.5.000,-Diskon ! 5 - Rp.20.000,-
Kemudian
saya tinggalkan teman tadi untuk mengikuti Rakornas KPMI. Setelah jeda
istirahat siang saya kembali ke stand untuk melihat hasil penjualan. Dan
ternyata tidak ada sama sekali produk majalah yang terjual... Luar
biasa !! Akhirnya saya kembali ke acara rakornas yang lumayan padat.
Setelah jeda sore mendekati maghrib saya kembali ke Stand dan tiba-tiba teman saya berkata, "Lihat pak.. dagangan majalah kita laku keras !!"
Benarkah?
Terkejut
saya melihat dagangan yang mulai laris ini. Dan lebih terkejut saya
mengira harga tetap RP. 5000,/majalah ternyata sudah berubah. Harga
obral majalah dinaikkan menjadi Rp.10.000 dan Rp. 20.000, dapat 3
majalah. Penjualan terus naik hingga acara KPMI Expo berakhir.
Dari kejadian diatas dalam dunia pemasaran disebut juga dengan tindakan up-selling.
Yaitu cara yang telah teruji untuk meningkatkan keuntungan ketika
menjual produk yang lebih mahal. Untuk melakukan hal ini kita harus
cerdas menentukan database calon konsumen yang sesuai dengan keunggulan
produk kita.
Up-selling berbeda dengan cross-selling
, di mana kita mencoba untuk membujuk pelanggan agar membeli produk
tambahan untuk melengkapi produk utama. Misalnya: Ada konsumen membeli
gamis muslimah, maka kita akan melakukan cross-selling dengan menawarkaan kepada konsumen produk tambahan berupa jilbab, kaos kaki, dsb.
Dari tulisan diatas kita bisa menarik kesimpulan bahwa
Harus Cerdas Membaca Pelanggan
Sebagai penjual yang baik tentu harus "sukses" membaca pelanggan dan memahami strata ekonomi yang sesuai keadaan mereka.
Sangat
penting untuk memastikan bahwa up-selling menjadi alternatif untuk
mendongkrak produk kita. Jangan sampai kita terburu-buru memasang harga
murah dengan asumsi agar barang cepat laku. Karena jika kita tidak
memahami kondisi pelanggan maka mereka beranggapan bahwa bahwa barang
kita "murahan" dan ujung-ujungnya mereka enggan menjamah produk kita. [Minan/KPMI]
Sumber: http://pengusahamuslim.com/kenapa-pembeli-lebih-suka-harga-1857?utm_source=feedburner&utm_medium=email&utm_campaign=Feed%3A+PMuslim+%28Subscribe+PengusahaMuslim.com%29#.Up_HHVM7DXQ
Komentar
Posting Komentar