Dari Facebook Prof. Jony Hermana, Rektor ITS
Saat berjalan kembali ke kantor usai shalat magrib berjamaah di Mesjid Manarul Ilmi ITS, saya dikejar oleh 2 orang mahasiswa yang dengan tergopoh-gopoh menyapa saya:
"Assalamualaikum Bapak.."
"Waalaikumsalam W.W....ya Mas?"
Saya menjawab sambil berhenti melangkah dan membalikkan badan.
"Maaf Pak, saya tidak tahu mau bertanya apa. Tapi saya selalu mengamati Bapak shalat berjamaah di mesjid padahal Bapak pasti sangatlah sibuk dengan berbagai urusan. Mengapa Bapak masih bisa menyempatkan diri shalat di mesjid? Nasihatilah kami Bapak..."
, ujar salah satunya dengan sedikit salah tingkah. Sementara mahasiswa satunya hanya diam sambil tersenyum mengikuti di belakangnya.Saya pandangi mereka beberapa saat, lalu menjawab,
"Boleh ikut saya ke kantor saya sebentar? Kita ngobrol sejenak..."
Mereka lalu mengikuti saya dengan semangat menuju ruang kantor tempat saya sehari-hari bekerja.
"Satu kalimat saja Pak pesannya, itu sudah cukup buat kami..supaya kami tidak terlalu lama mengganggu waktu bapak",
kata salah satunya lagi, antara sungkan dan juga tak sabar mungkin.
"Begini, "
ujar saya singkat sambil mempersilakan mereka mencicipi hidangan tamu yang tersedia di atas meja.
"Jika kalian yakin terhadap Tuhan yang menciptakanmu, yakin juga kalau DIA lah yang menentukan nasib dan takdir kita, untung dan rugi, susah dan bahagianya kita, mengapa lalu kita mengabaikan panggilannya ketika DIA berseru untuk menghadapNYA?"
"Kita kadang begitu ngotot tentang pentingnya urusan kita sehingga merasa tidak bisa meninggalkannya barang sekejap pun..
tapi kita lupa bahwa arti penting itu menjadi tidak berarti apapun ketika DIA tiba-tiba mencabut nyawa kita seketika..."
"Padahal siapapun tidak akan bisa menjamin kehidupan, meski itu untuk kehidupan dirinya sendiri sekalipun"
"Jadi sebenarnya saya hanya berusaha rasional saja bahwa sesungguhnya kita itu tidak berarti apa-apa dihadapannya"
"Lalu...mengapa harus ke mesjid? Pasti Saudara khan tahu banyak keutamaannya silakan baca sendiri referensinya. Tapi ada hal yang saya senang yaitu bahwa Allah akan menghitung pahalanya berdasarkan orang yang shalatnya paling khusu di antara jamaah.
Sehingga kita yang shalatnya mungkin sedang tidak khusu akan terbantu oleh saudara kita yang lain tersebut atau bahkan siapa tahu, sebaliknya"
"Ups, sepertinya saya sudah berkalimat-kalimat yang terucapkan yang bukan hanya satu.."
celetuk saya sambil tersenyum.
"Iya Pak, sudah banyak sekali yang kami dapat. Terima kasih Pak.."
#(Dialog tersebut saya rekam dan tulis ulang siapa tahu memberi inspirasi yang lain, bukan sok mengajari, bahwa kita perlu logis dalam memprioritaskan yang prioritas dalam perilaku kehidupan kita)
Komentar
Posting Komentar