Uniknya Anak- anak: Sugesti Positif Bisa Membedakan Hasil
Ini tentang kekuatan pikiran
Tentang bagaimana sugesti positif pada diri sendiri yang diikuti oleh ‘can do attitude’ bisa menghasilkan output cemerlang.
Kali ini tentang anak sulungku.
Bicara dengan para remaja memang susah- susah gampang. Sudahlah sering mereka menggunakan kosa kata yang tak kita pahami, adakalanya tata bahasa atau bahkan isi kalimatnya membuat kita gagal paham atau nyaris pingsan karena terkejut.
Si sulung ini, perempuan di usia tujuh belasnya, duduk si semester dua fakultas teknik.
Dia feminin, pandai menari dan main musik, dan gerak geriknya halus. Tapi suatu hari dia tanpa prolog apapun bisa tiba- tiba bicara begini padaku, ” Ibu, nanti boleh kan berenang di tempat yang banyak hiu-nya? “
Hah?!
Maksudnyaaaaa???
” Iya. Aku ingin nyoba berenang pas ada hiu- hiu berenang dekat-dekat, gitu.. “
Kalimat yang selain membuatku tercengang juga meminta waktu beberapa hari untuk berpikir apakah akan mengijinkan atau tidak dan sampai last minute-pun tetap tak berhasil memutuskan saking mengerikannya apa yang dia katakan itu menurutku.
Nah, si sulung ini juga yang beberapa hari yang lalu, tak ada hujan tak ada angin menghampiri aku yang sedang berada di kamar lalu berkata, ” Tiga koma tujuh dua. “
Apa?
Tiga-koma-tujuh-dua tentang apa?
Saat aku masuk ke kamar, si sulung ini sedang menelungkup di ruang keluarga rumah kami dengan TV menyala di hadapannya, memegang telepon genggam, serta sebuah novel tergeletak di sampingnya.
Jadi aku berpikir-pikir menduga apa yang ada di TV, novel atau ditemukannya dalam telepon genggam yang bisa berhubungan dengan tiga koma tujuh dua tadi.
Gagal.
Kutatap dia tak paham.
Dia merespons tatapanku dengan sebuah kalimat, ” Aku tiga koma tujuh dua. “
Dan aku tetap tak mengerti maksudnya. Ha ha ha.
Sampai akhirnya ditambahkannya lagi sebuah kata, ” IP aku tiga koma tujuh dua, bu. “
Oh, dia sedang bicara tentang indeks prestasi-nya di semester dua ini rupanya. Putriku itu memang sedang pulang berlibur ke rumah sebab masa ujian semester sudah lewat. Dan rupanya barusan dia entah melihat data nilainya on line atau mendapat kabar dari temannya yang berada di kampus tentang IP-nya itu.
Hmmm.
” Keren, ” komentarku, ” Dapat apa calculusnya? “
” AB, ” katanya. ( Rupanya sekarang ada nilai- nilai antara semacam itu dalam daftar nilai para mahasiswa di kampusnya — AB,artinya antara A dan B lalu ada juga BC, yang berarti antara B dan C, dan sebagainya — bukan semata nilai bulat A,B,C,D,E saja. )
” Wow! ”
Tidak bisa tidak kuserukan kekagumanku. Lalu, ” Nah bener kan nduk, artinya sugesti positif itu memang bisa membedakan hasil.. “
Anakku tertawa- tawa…
***
Aku senang tentu saja mendapat berita itu.
Lebih senang lagi sebab merasa walau si sulung kuliah di kota lain, ketika dia mendapat kesulitan, aku tetap bisa membantu.
Calculus menghantuinya sejak semester lalu.
IP-nya tidak jelek ketika itu. 3,28. Sama sekali tak ada yang perlu dipermasalahkan. Hanya saja cerita dia bahwa dia mendapat nilai C untuk Calculus diantara deretan angka A dan B untuk mata kuliah lain menarik perhatianku.
” Kenapa Calculus-nya? ” tanyaku.
Dan kudengar semua keluhan itu. Tentang Calculus yang menyebalkan, susah sekali, sudah belajarpun ngga ngerti- ngerti, tentang betapa kesalnya dia sebab pelajaran menyebalkan serupa itu diberikan dalam jumlah jam yang banyak dalam seminggu.
” Bayangin Bu, ” katanya, ” Aku kuliah Calculus delapan jam seminggu! Aku liat bukunya aja udah eneg rasanya. “
Hmmm.
” Apa mayoritas nilai teman- temanmu? “
” C, ” jawabnya, ” Banyak juga yang di bawah itu. “
” Ada yang dapat A atau B ? “
” Ada, dikit banget. “
” Tapi artinya bisa ya, dapat A atau B itu? “
” Ibbbuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu, ” si sulung menatapku seakan- akan menatap ibu- ibu paling kejam di seluruh dunia.
” Lho, ” kataku, ” Ibu kan cuma bilang, artinya dapat A atau B itu bukan ngga mungkin… “
Dan anakku mengomel lagi.
” Tapi itu anak- anak yang suka lomba- lomba itu lho bu, yang dapat A. Yang juara- juara olimpiade. Yang memang senang Calculus. Aku sih nggak seneng, ibuuuu… “
Ah, kutemukan juga akar masalahnya.
” Nduk, ” kataku, ” Nggak ingin lulus cum laude? “
” Emang harus? ” jawabnya.
” Ya enggak sih, ” kataku. Dan aku memang memaksudkan itu. Memangnya harus lulus cum laude, tidak kan? Aku juga tak meminta anakku lulus cum laude, koq.
Tapi..
” Masih ingin cari beasiswa buat Master di luar negeri nanti habis lulus? “
Dia mengangguk cepat.
” Nah, kalau begitu, ” kataku, ” Lulus cum laude atau tidak, mungkin akan membedakan hasil. Bisa jadi cum laude membuka peluang lebih besar untuk dapat beasiswa. “
Dia diam saja.
Kuhentikan percakapan itu untuk memberikan waktu padanya buat berpikir.
***
Masuk semester dua…
Di tengah semester, “Ibu, nggak apa- apa kan kalau semester ini Calculusku dapat C lagi? ”
Itu kalimat di SMS yang masuk ke telepon genggamku suatu siang.
Kubayangkan dia disana, ratusan kilometer jaraknya dari tempatku berada, sedang berkutat dengan Calculus-yang-menyebalkan menurutnya itu.
Kujawab pesannya, ” Nggak apa- apa koq. Nyantai aja.. “
Namun kutelepon dia malam harinya.
” Hai nduk, ” kataku, “Susah calculusnya? Masih nggak seneng? “
Dan kudengarkan berjuta keluhan lagi.
” Dapat C nggak apa- apa, koq, ” kataku, ” Nggak usah jadi beban. Yang penting udah usaha. Tapi mau nyoba cara ini nggak, siapa tau berhasil? Kalau nggak berhasil juga nggak apa- apa.. “
” Apa? ” tanyanya.
” Coba deh, ” kataku, ” Setiap hari sebelum tidur, mikir gini: Aku senang Calculus. Calculus itu gampang. Aku bisa dapat nilai bagus untuk Calculus. “
Dia tak menjawab. Maka kualihkan pembicaraan ke topik lain.
Tapi walau tak menjawab, tampaknya dilakukannya juga saranku. Dan kelihatannya, bukan hanya urusan Calculus, tapi komentarku bahwa lulus cum laude mungkin bisa membuka peluang lebih besar baginya untuk memperoleh beasiswa yang dia cita- citakan diserapnya juga.
Dan…
Itulah hasilnya.
” Tiga koma tujuh dua ” dan nilai AB untuk Calculus itu. Melejit naik dari 3,28 dan C di semester sebelumnya.
Terbukti sekali lagi, bahwa motivasi serta sugesti posistif memang bisa membedakan hasil.
That is the power of mind. Jangan meremehkan kekuatan pikiran. Dalam banyak saat, apa yang kita pikirkan, itulah yang akan terjadi…
sumber: http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2013/06/12/uniknya-anak-anak-sugesti-positif-bisa-membedakan-hasil-567985.html
Tentang bagaimana sugesti positif pada diri sendiri yang diikuti oleh ‘can do attitude’ bisa menghasilkan output cemerlang.
Kali ini tentang anak sulungku.
Bicara dengan para remaja memang susah- susah gampang. Sudahlah sering mereka menggunakan kosa kata yang tak kita pahami, adakalanya tata bahasa atau bahkan isi kalimatnya membuat kita gagal paham atau nyaris pingsan karena terkejut.
Si sulung ini, perempuan di usia tujuh belasnya, duduk si semester dua fakultas teknik.
Dia feminin, pandai menari dan main musik, dan gerak geriknya halus. Tapi suatu hari dia tanpa prolog apapun bisa tiba- tiba bicara begini padaku, ” Ibu, nanti boleh kan berenang di tempat yang banyak hiu-nya? “
Hah?!
Maksudnyaaaaa???
” Iya. Aku ingin nyoba berenang pas ada hiu- hiu berenang dekat-dekat, gitu.. “
Kalimat yang selain membuatku tercengang juga meminta waktu beberapa hari untuk berpikir apakah akan mengijinkan atau tidak dan sampai last minute-pun tetap tak berhasil memutuskan saking mengerikannya apa yang dia katakan itu menurutku.
Nah, si sulung ini juga yang beberapa hari yang lalu, tak ada hujan tak ada angin menghampiri aku yang sedang berada di kamar lalu berkata, ” Tiga koma tujuh dua. “
Apa?
Tiga-koma-tujuh-dua tentang apa?
Saat aku masuk ke kamar, si sulung ini sedang menelungkup di ruang keluarga rumah kami dengan TV menyala di hadapannya, memegang telepon genggam, serta sebuah novel tergeletak di sampingnya.
Jadi aku berpikir-pikir menduga apa yang ada di TV, novel atau ditemukannya dalam telepon genggam yang bisa berhubungan dengan tiga koma tujuh dua tadi.
Gagal.
Kutatap dia tak paham.
Dia merespons tatapanku dengan sebuah kalimat, ” Aku tiga koma tujuh dua. “
Dan aku tetap tak mengerti maksudnya. Ha ha ha.
Sampai akhirnya ditambahkannya lagi sebuah kata, ” IP aku tiga koma tujuh dua, bu. “
Oh, dia sedang bicara tentang indeks prestasi-nya di semester dua ini rupanya. Putriku itu memang sedang pulang berlibur ke rumah sebab masa ujian semester sudah lewat. Dan rupanya barusan dia entah melihat data nilainya on line atau mendapat kabar dari temannya yang berada di kampus tentang IP-nya itu.
Hmmm.
” Keren, ” komentarku, ” Dapat apa calculusnya? “
” AB, ” katanya. ( Rupanya sekarang ada nilai- nilai antara semacam itu dalam daftar nilai para mahasiswa di kampusnya — AB,artinya antara A dan B lalu ada juga BC, yang berarti antara B dan C, dan sebagainya — bukan semata nilai bulat A,B,C,D,E saja. )
” Wow! ”
Tidak bisa tidak kuserukan kekagumanku. Lalu, ” Nah bener kan nduk, artinya sugesti positif itu memang bisa membedakan hasil.. “
Anakku tertawa- tawa…
***
Aku senang tentu saja mendapat berita itu.
Lebih senang lagi sebab merasa walau si sulung kuliah di kota lain, ketika dia mendapat kesulitan, aku tetap bisa membantu.
Calculus menghantuinya sejak semester lalu.
IP-nya tidak jelek ketika itu. 3,28. Sama sekali tak ada yang perlu dipermasalahkan. Hanya saja cerita dia bahwa dia mendapat nilai C untuk Calculus diantara deretan angka A dan B untuk mata kuliah lain menarik perhatianku.
” Kenapa Calculus-nya? ” tanyaku.
Dan kudengar semua keluhan itu. Tentang Calculus yang menyebalkan, susah sekali, sudah belajarpun ngga ngerti- ngerti, tentang betapa kesalnya dia sebab pelajaran menyebalkan serupa itu diberikan dalam jumlah jam yang banyak dalam seminggu.
” Bayangin Bu, ” katanya, ” Aku kuliah Calculus delapan jam seminggu! Aku liat bukunya aja udah eneg rasanya. “
Hmmm.
” Apa mayoritas nilai teman- temanmu? “
” C, ” jawabnya, ” Banyak juga yang di bawah itu. “
” Ada yang dapat A atau B ? “
” Ada, dikit banget. “
” Tapi artinya bisa ya, dapat A atau B itu? “
” Ibbbuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu, ” si sulung menatapku seakan- akan menatap ibu- ibu paling kejam di seluruh dunia.
” Lho, ” kataku, ” Ibu kan cuma bilang, artinya dapat A atau B itu bukan ngga mungkin… “
Dan anakku mengomel lagi.
” Tapi itu anak- anak yang suka lomba- lomba itu lho bu, yang dapat A. Yang juara- juara olimpiade. Yang memang senang Calculus. Aku sih nggak seneng, ibuuuu… “
Ah, kutemukan juga akar masalahnya.
” Nduk, ” kataku, ” Nggak ingin lulus cum laude? “
” Emang harus? ” jawabnya.
” Ya enggak sih, ” kataku. Dan aku memang memaksudkan itu. Memangnya harus lulus cum laude, tidak kan? Aku juga tak meminta anakku lulus cum laude, koq.
Tapi..
” Masih ingin cari beasiswa buat Master di luar negeri nanti habis lulus? “
Dia mengangguk cepat.
” Nah, kalau begitu, ” kataku, ” Lulus cum laude atau tidak, mungkin akan membedakan hasil. Bisa jadi cum laude membuka peluang lebih besar untuk dapat beasiswa. “
Dia diam saja.
Kuhentikan percakapan itu untuk memberikan waktu padanya buat berpikir.
***
Masuk semester dua…
Di tengah semester, “Ibu, nggak apa- apa kan kalau semester ini Calculusku dapat C lagi? ”
Itu kalimat di SMS yang masuk ke telepon genggamku suatu siang.
Kubayangkan dia disana, ratusan kilometer jaraknya dari tempatku berada, sedang berkutat dengan Calculus-yang-menyebalkan menurutnya itu.
Kujawab pesannya, ” Nggak apa- apa koq. Nyantai aja.. “
Namun kutelepon dia malam harinya.
” Hai nduk, ” kataku, “Susah calculusnya? Masih nggak seneng? “
Dan kudengarkan berjuta keluhan lagi.
” Dapat C nggak apa- apa, koq, ” kataku, ” Nggak usah jadi beban. Yang penting udah usaha. Tapi mau nyoba cara ini nggak, siapa tau berhasil? Kalau nggak berhasil juga nggak apa- apa.. “
” Apa? ” tanyanya.
” Coba deh, ” kataku, ” Setiap hari sebelum tidur, mikir gini: Aku senang Calculus. Calculus itu gampang. Aku bisa dapat nilai bagus untuk Calculus. “
Dia tak menjawab. Maka kualihkan pembicaraan ke topik lain.
Tapi walau tak menjawab, tampaknya dilakukannya juga saranku. Dan kelihatannya, bukan hanya urusan Calculus, tapi komentarku bahwa lulus cum laude mungkin bisa membuka peluang lebih besar baginya untuk memperoleh beasiswa yang dia cita- citakan diserapnya juga.
Dan…
Itulah hasilnya.
” Tiga koma tujuh dua ” dan nilai AB untuk Calculus itu. Melejit naik dari 3,28 dan C di semester sebelumnya.
Terbukti sekali lagi, bahwa motivasi serta sugesti posistif memang bisa membedakan hasil.
That is the power of mind. Jangan meremehkan kekuatan pikiran. Dalam banyak saat, apa yang kita pikirkan, itulah yang akan terjadi…
sumber: http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2013/06/12/uniknya-anak-anak-sugesti-positif-bisa-membedakan-hasil-567985.html

Komentar
Posting Komentar