Who Moved My Cheese
Banyak buku yang mengupas tentang
masalah perubahan dan inovasi seperti: Differentiate Or Die, karangan
Jack Trout dan Steve Rivkin; Blue Ocean Strategy karangan W. Chan Kim
dan Renée Mauborgne; Change
dan Re-code Your Change DNA, keduanya karya Rhenald Kasali, dan masih
banyak lagi yang lain.
Salah satu buku yang bagus,
inspiring dan mudah dipahami yang mengupas tentang bagaimana menyikapi
perubahan adalah Who Moved My Cheese, karangan Spencer Johnson. Meski
buku ini sebenarnya termasuk kategori buku cukup lawas, namun
content-nya masih tetap relevan dan dapat dimanfaatkan sampai saat ini
dan nanti, sehingga saya cantumkan dalam blog ini. Meskipun alasan sebenarnya
adalah, karena saya suka buku itu! Hehe.
Buku ini mengupas tentang dua hal
berseberangan yang bekerja dalam diri kita, yaitu “sederhana” dan “rumit”, yang
ditamsil dan diumpamakan melalui empat tokoh imajiner dalam sebuah kisah fiktif.
Empat tokoh tersebut mewakili bagian dari kepribadian manusia, yaitu:
Sniff (Endus), Scurry (Lacak),
Hem (Kaku) dan Haw (Aman). Sniff dan Scurry
digambarkan sebagai dua ekor tikus, sementara Hem dan Haw digambarkan sebagai
dua orang kurcaci. Keempatnya hidup dalam labirin-labirin, yang menggambarkan
berbagai perubahan dan ketidakpastian. Buku ini banyak mengandung simbolisasi
yang indah dan mudah ditangkap.
Kadang kita bertindak seperti Sniff,
yang mampu mencium adanya perubahan dengan cepat, atau Scurry yang segera
bergegas mengambil tindakan, atau Hem yang menolak serta mengingkari perubahan
karena takut perubahan akan mendatangkan hal yang buruk, atau Haw yang baru
mencoba beradaptasi dalam keadaan terdesak dan apabila melihat perubahan
mendatangkan sesuatu yang lebih baik.
Di Indonesia, buku tersebut
diterjemahkan dan diterbitkan oleh Elex Media Komputindo. Cetakan yang saya
gunakan kali ini adalah cetakan ke-12, Agustus 2006. (Milik pribadi? Oh bukan,
pinjam punya teman. He he.)
Berikut ini adalah kisah fiktif dan
perumpaan yang menjadi inti buku dimaksud, dengan ringkasan dan
perubahan:
WHO MOVED MY
CHEESE
Hidup empat tokoh yang berlarian di
dalam labirin mencari cheese untuk kesejahteraan dan kebahagiaan
mereka. Dua di antaranya adalah tikus yang
bernama “Sniff’ dan “Scurry”, dua lainnya adalah kurcaci sebesar tikus yang
berpenampilan dan bertingkah laku sama seperti manusia pada saat ini. Namanya
adalah “Hem” dan “Haw”.
Setiap hari tikus
dan kurcaci tersebut menghabiskan waktu mereka di dalam labirin mencari
cheese kesukaan mereka.
Tikus-tikus,
Sniff dan Scurry, yang hanya mampu berpikir sejauh otak binatang pengerat itu
berpikir namun dikaruniai naluri yang baik, mencari cheese keras
berlubang-lubang sama seperti yang dilakukan tikus-tikus
lainnya.
Sementara itu
kedua kurcaci, Hem dan Haw, menggunakan otak mereka, yang dipenuhi dengan
berbagai dogma dan emosi, mencari Cheese yang berbeda—yaitu Cheese
dengan C besar.
Namun meskipun
berbeda, kurcaci dan tikus memiliki kesamaan. Setiap pagi masing-masing
mengenakan pakaian jogging dan sepatu lari mereka, meninggalkan rumah
kecil mereka, berlomba lari menuju labirin mencari cheese favorit
mereka.
Labirin tersebut
terdiri dari lorong panjang berkelok-kelok dan ruang-ruang yang beberapa di
antaranya berisi cheese yang lezat. Namun demikian ada pula
sudut-sudut gelap dan jalan tak bertuan yang menyesatkan.
Sehingga mudah sekali bagi siapa saja tersesat di dalamnya.
Sementara itu,
bagi mereka yang telah menemukan jalan, terdapat rahasia-rahasia yang membuat
mereka bisa hidup senang.
Tikus-tikus,
Sniff dan Scurry, menggunakan metode trial and error dalam mencari
cheese. Mereka berlari ke satu lorong dan jika temyata kosong, mereka
akan berbalik dan mulai mencari di lorong yang lain. Mereka mengingat lorong
mana saja yang tidak menyimpan cheese dan dengan cepat pindah ke daerah
lain.
Sniff bertugas
melacak jejak cheese dengan mengendus-endus menggunakan hidungnya yang
hebat, sedang Scurry yang akan berlari terlebih dulu. Mereka pernah juga salah
arah dan sering menabrak tembok. Namun tak lama kemudian mereka akan menemukan
kembali jalan yang benar.
Sama seperti
tikus, kedua kurcaci, Hem dan Haw, juga menggunakan kemampuan berpikir dan
belajar dari pengalaman mereka. Namun mereka bergantung pada otak mereka yang
kompleks dalam mengembangkan metode menemukan
Cheese.
Meskipun demikian
mereka semua, Sniff, Scurry, Hem, dan Haw menemukan apa yang mereka inginkan
dengan cara masing-masing. Dan pada suatu hari, mereka menemukan cheese
kesukaan mereka di salah satu ujung lorong Cheese Station
C!
Setelah itu,
setiap pagi para tikus dan kurcaci segera memakai perlengkapan lari mereka dan
langsung berlari menuju Cheese Station C. Tak lama kemudian hal itu
menjadi kegiatan rutin mereka.
Sniff dan Scurry
tetap dengan kebiasaan bangun pagi mereka dan langsung berlari ke dalam labirin,
dan selalu mengikuti rute yang sama. Begitu sampai di tujuan, mereka
menanggalkan sepatu lari dan mengikat kedua talinya, lalu mengalungkannya di
leher sehingga memudahkan mereka memakainya saat memerlukannya nanti. Kemudian
mereka menikmati cheese.
Pada awalnya Hem
dan Haw juga berlarian ke Cheese Station C setiap pagi untuk menikmati
potongan Cheese baru yang lezat yang telah menunggu
mereka.
Namun setelah
beberapa saat kebiasaan para kurcaci berubah. Sekarang, Hem dan Haw bangun
sedikit lebih siang, berpakaian sedikit lebih lama, clan kemudian baru berjalan
ke Cheese Station C. Sekarang mereka sudah tahu di mana letak
Cheese Station C dan jalan menuju ke sana.
Mereka tidak tahu
dari mana datangnya Cheese itu dan siapa yang menempatkannya di sana.
Mereka hanya berasumsi bahwa Cheese itu pasti ada di
sana.
Setiap pagi,
begitu Hem dan Haw sampai di Cheese Station C, mereka segera masuk dan
berlaku seolah-olah di rumah sendiri. Mereka menggantung pakaian lari, melepas
sepatu dan menggantikannya dengan sendal. Mereka merasa sangat nyaman saat ini
karena telah menemukan Cheese. “Ini luar biasa,” kata Hem. “Tersedia
cukup banyak Cheese untuk kita selamanya.” Kurcaci-kurcaci itu merasa
bahagia dan sukses, serta berpikir bahwa sekarang mereka sudah
aman.
Segera sesudah
itu Hem dan Haw mengangap Cheese yang mereka temukan di Cheese
Station C adalah milik mereka. Tempat itu seperti toko Cheese yang
luas dan mereka pun segera memindahkan rumah mereka lebih dekat ke sana dan
mulai membangun kehidupan sosial di sekitarnya.
Kadang, Hem dan Haw mengundang
teman-teman mereka untuk mengagumi tumpukan Cheese di Cheese
Station C. Sambil menunjuk ke tumpukan itu dengan bangga, mereka berkata,
“Cheese yang cantik, bukan?” Terkadang mereka membagikannya kepada
rekan mereka, tapi kadang juga tidak. “Kami berhak mendapatkan Cheese
ini,” kata Hem lagi. “Kami harus bekerja keras dan lama untuk
menemukannya.”
Setiap malam para kurcaci berjalan
perlahan menuju tempat tinggal mereka dengan membawa tumpukan penuh
Cheese, dan paginya dengan yakin mereka akan kembali lagi untuk
mengambil lebih banyak lagi.
Hal ini berjalan sampai beberapa saat.
Dalam waktu singkat keyakinan Hem dan Haw pun berubah menjadi kesombongan akan
keberhasilan mereka. Segera mereka terjebak dalam kenyamanan sehingga tidak
menyadari apa yang sedang terjadi.
Sementara waktu
berlalu, Sniff dan Scurry tetap melakukan kegiatan rutin mereka. Mereka tiba
pagi-pagi sekali, mengendus, mencakar, dan melacak daerah sekitar Cheese
Station C, mereka melihat apakah ada perubahan yang terjadi dibandingkan
kemarin. Baru kemudian mereka duduk dan memakan
cheese.
Suatu pagi mereka
tiba di Cheese Station C dan melihat tidak ada lagi cheese di
sana.
Mereka tidak
heran sama sekali. Karena Sniff dan Scurry sudah memperhatikan bahwa simpanan
cheese tersebut semakin hari semakin menipis belakangan ini. Mereka
sudah siap dengan keadaan ini, dan secara insting tahu apa yang harus mereka
lakukan.
Mereka saling
melihat, melepaskan sepatu lari yang mereka ikat dan digantungkan di leher,
kemudian mengenakannya, lalu mengencangkan tali pengikatnya.
Tikus tidak melakukan analisis yang
berlebihan.
Bagi tikus,
masalah dan pemecahannya sama sederhananya. Situasi di Cheese Station C
sudah berubah. Maka Sniff dan Scurry memutuskan untuk berubah juga.
Mereka berdua mencarinya kembali di dalam labirin. Sniff pun mulai mengangkat
hidungnya, mengendus, dan menganggukkan kepalanya ke arah Scurry, yang dengan
cepat segera berlari masuk ke dalam labirin sementara Sniff mengikutinya dari
belakang secepat ia bisa.
Dengan cepat mereka berangkat untuk
menemukan cheese baru.
Di waktu siangnya, masih pada hari yang
sama, Hem dan Haw tiba di Cheese Station C. Mereka tidak memperhatikan
perubahan-perubahan kecil yang terjadi setiap hari, sehingga mereka merasa
yakin bahwa Cheese mereka pasti ada di sana.
Mereka tidak siap
menghadapi kenyataan di depan mereka.
“Apa?! Tidak ada
Cheese?!” teriak Hem. Kemudian ia terus berteriak-teriak,
“Tidak ada Cheese?! Tidak ada Cheese?!”
Seolah-olah jika ia berteriak sekeras mungkin seseorang bakal
mengembalikan Cheese-nya.
“Who Moved My
Cheese?!” teriaknya. Akhirnya, sambil berkacak
pinggang, wajahnya berubah merah padam, ia pun meraung keras sekali, “Ini tidak
adil!”
Haw hanya
menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. Ia pun juga merasa yakin pasti
menemukan Cheese di Cheese Station C. Ia berdiri di sana lama
sekali, terpaku karena terguncang. Ia sama sekali tidak siap menghadapi hal
ini.
Hem meneriakkan
sesuatu, namun Haw tidak ingin mendengarkannya. Ia tidak mau menghadapi apa yang
sedang terjadi, ia pun berusaha menyingkirkannya.
Tindakan para
kurcaci sangat tidak menarik dan tidak produktif, namun bisa dipahami. Menemukan
Cheese bukan pekerjaan mudah dan bagi para kurcaci lebih besar lagi
artinya dibandingkan dengan hasil yang hanya bisa dimakan setiap
hari.
Menemukan
Cheese adalah cara memenuhi pemikiran mereka bahwa mereka berhak untuk
bahagia. Bagi para kurcaci Cheese mempunyai arti lebih, tergantung
dari rasanya. Bagi sebagian dari mereka, menemukan Cheese berarti
menemukan hal-hal yang bersifat material, bagi yang lainnya bisa berupa hidup
sehat atau mencapai kepuasan spiritual. Bagi Haw, menemukan Cheese
berarti menemukan rasa aman, mempunyai keluarga yang Baling mencintai suatu
hari nanti, dan tinggal di rumah yang nyaman di Cheddar Lane. Sedangkan bagi
Hem, Cheese akan menjadi Cheese Besar (alat pengaruh) yang
digunakannya untuk mempengaruhi orang lain dan untuk memiliki rumah besar di
daerah elit, Camembert Hill.
Karena Cheese sangat berarti
bagi mereka, kedua kurcaci tersebut memerlukan waktu yang lebih lama untuk
memutuskan apa yang harus mereka lakukan. Hal yang bisa mereka pikirkan hanyalah
tetap mencari-cari di sekitar Cheese Station C untuk memastikan bahwa
Cheese tersebut memang benar-benar sudah lenyap.
Para kurcaci masih belum percaya. Mengapa hal ini bisa
terjadi? Tak ada satu orang pun yang memberi peringatan kepada mereka. Ini tidak
benar. Hal ini tidak biasanya terjadi.
Malam itu Hem dan Haw pulang ke rumah
dalam keadaan lapar dan gundah. Namun sebelum mereka pergi, Haw menulis di
dinding:
SEMAKIN PENTING ARTI CHEESE BAGI ANDA SEMAKIN INGIN
ANDA MEMPERTAHANKANNYA
Keesokan harinya Hem dan Haw
meninggalkan rumah mereka dan kembali ke Cheese Station C lagi, dengan
harapan, siapa tahu dapat kembali menemukan Cheese mereka. Ternyata
situasinya tidak berubah, Cheese itu sudah tidak ada lagi di sana. Para
kurcaci tidak tahu harus berbuat apa. Hem dan Haw hanya berdiri saja di sana,
seperti dua buah patung.
Hem menganalisa situasi tersebut
berkali-kali sampai akhirnya otaknya yang canggih dan sistem kepercayaannya
yang besar mengambil alih. “Mengapa mereka memperlakukan aku seperti ini?”
tuntutnya. “Apa yang sebenarnya terjadi di sini?”
Akhirnya Haw membuka matanya, melihat
sekeliling ruangan dan berkata, “Eh, ke mana Sniff dan Scurry? Apakah mereka
tahu sesuatu yang tidak kita ketahui?”
“Apa yang mereka ketahui?” kata Hem
sinis.
Lanjut Hem,
“Mereka cuma tikus biasa. Mereka hanya merespon apa yang terjadi. Kita adalah
kurcaci. Kita lebih pintar dari tikus-tikus itu. Kita harus
mampu menemukan jawaban terhadap apa yang telah terjadi.”
“Aku tahu, kita
lebih pintar,” kata Haw, “namun tampaknya kita tidak bertindak lebih pintar saat
ini. Situasi di sini telah berubah, Hem. Mungkin kita perlu berubah dan
melakukan hal yang berbeda.”
“Mengapa kita
harus berubah?” tanya Hem. “Kita
kurcaci. Kita beda. Hal semacam ini tidak selayaknya menimpa kita. Atau jika
terjadi, setidaknya kita mendapatkan keuntungan darinya.”
“Mengapa kita
harus mendapatkan keuntungan?” tanya Haw.
“Karena kita berhak,” kata Hem mantap.
“Berhak atas apa?” kata Haw ingin tahu.
“Kita berhak atas Cheese
kita.”
“Mengapa?” tanya Haw
lagi.
“Karena, bukan
kita yang menyebabkan bencana ini,” kata Hem. “Ini disebabkan oleh orang lain,
maka kita harus mencari tahu.”
Haw mengusulkan,
“Mungkin sebaiknya kita berhenti menganalisa situasi ini dan mulai pergi
mencari Cheese Baru.”
“Oh, tidak,” debat Hem. “Aku akan
mencari akar permasalahannya.”
Sementara Hem dan
Haw masih mencoba memutuskan apa yang akan mereka lakukan, Sniff dan Scurry
telah menemukan jalan mereka. Mereka masuk jauh ke dalam labirin, keluar masuk
lorong dan koridor yang ada, mencari cheese di setiap Cheese
Station yang mereka temukan.
Mereka tidak
memikirkan hal-hal lain selain mencari Cheese Baru.
Memang, mereka
tidak langsung menemukan cheese selama beberapa waktu, sampai akhirnya
tiba di suatu bagian labirin yang belum pernah mereka datangi sebelumnya:
Cheese Station N.
Mereka memekik
kegirangan. Mereka menemukan apa yang mereka cari-cari: persediaan Cheese
baru yang sangat banyak. Mereka tidak bisa mempercayai penglihatan mereka.
Tempat itu adalah toko cheese terbesar yang pernah dilihat oleh para
tikus.
Sementara itu,
Hem dan Haw masih kembali ke Cheese Station C untuk mengevaluasi
keadaan mereka. Mereka sekarang mulai menderita karena kelangkaan Cheese.
Mereka menjadi putus asa dan saling menyalahkan satu sama lain sebagai
penyebab penderitaan mereka.
Sering kali Haw
memikirkan rekan tikus mereka, Sniff dan Scurry, serta bertanya-tanya apakah
mereka sudah menemukan cheese atau belum. Ia yakin sekali mereka juga
mengalami masa-masa sulit karena berlarian di dalam labirin yang tidak sedikit
pun menjanjikan kepastian. Namun, ia juga tahu bahwa keadaan semacam itu hanya
akan berlangsung sementara.
Terkadang, Haw
membayangkan Sniff dan Scurry telah menemukan Cheese baru dan sedang
menikmatinya. Ia membayangkan mungkin sebaiknya ia juga berlarian berpetualang
lagi di labirin, dan menemukan Cheese baru yang masih segar. Ia bahkan
hampir bisa merasakannya.
Semakin jelas Haw
melihat gambaran dirinya menemukan dan menikmati Cheese baru, semakin
kuat pula dorongan dari dalam dirinya untuk meninggalkan Cheese Station
C.
“Ayo kita pergi!” teriaknya
tiba-tiba.
“Tidak,” balas
Hem dengan cepat. “Aku senang di sini. Nyaman. Kita sudah kenal. Di samping itu
di luar sana sangat berbahaya.”
“Sama sekali
tidak,” bantah Haw. “Kita sudah menjelajahi banyak tempat sebelumnya, kita bisa
melakukannya lagi.”
“Aku sudah terlalu tua untuk itu,” kata
Hem. “Dan aku takut, aku tidak ingin tersesat dan mengolok-olok diri sendiri.
Kamu juga kan?”
Mendengar itu,
ketakutan Haw akan kegagalan pun muncul kembali dan harapannya untuk menemukan
Cheese baru pun surut.
Jadi, setiap hari
mereka tetap melakukan hal-hal yang biasa mereka lakukan selama ini. Mereka
pergi ke Cheese Station C, tidak menemukan Cheese, lalu pulang
ke rumah, dalam keadaan khawatir dan putus asa.
Rumah mereka bukan lagi tempat
peristirahatan bagi mereka seperti sebelumnya. Mereka sulit tidur dan sering
mimpi buruk tentang tidak menemukan Cheese sama sekali. Namun, Hem dan Haw tetap
saja kembali ke Cheese Station C dan menunggu di sana setiap
hari.
Hem berkata,
“Tahu tidak, jika saja kita bekerja lebih keras lagi kita akan menemukan bahwa
tidak ada perubahan besar. Cheese itu mungkin saja ada di dekat kita.
Mungkin mereka menyembunyikannya di balik dinding.”
Keesokan harinya,
Hem dan Haw kembali dengan membawa peralatan. Hem membawa pahat, sementara Haw
memukul-mukulkan palu sampai mereka membuat lubang di dinding Cheese Station
C. Mereka mengintip ke dalamnya, namun tetap tidak menemukan
Cheese.
Mereka kecewa namun masih yakin bahwa
mereka yakin bisa memecahkan masalah itu. Maka mereka mulai bekerja lebih pagi,
tinggal lebih lama, dan bekerja lebih keras. Namun, setelah beberapa lama
mereka bekerja, yang mereka dapatkan hanyalah lubang besar di
dinding.
Haw mulai menyadari adanya perbedaan
besar antara aktivitas dan produktivitas.
“Mungkin,” kata
Hem, “kita sebaiknya duduk dulu dan melihat apa yang akan terjadi. Cepat atau
lambat mereka pasti akan menaruh Cheese itu lagi di
sinil”
Haw sangat ingin mempercayainya. Maka
setiap hari ia pulang ke rumah hanya untuk beristirahat dan kembali dengan
enggan bersama Hem ke Cheese Station C. Namun Cheese tidak
pernah muncul lagi.
Saat itu mereka
menjadi semakin lemah karena lapar dan tertekan. Haw mulai bosan menunggu dan
berharap akan adanya perubahan situasi. Ia mulai menyadari semakin lama mereka
berada dalam keadaan tanpa Cheese, keadaan mereka akan bertambah parah.
Haw tahu mereka sudah sampai pada batas kekuatan dan kesabaran
mereka.
Akhirnya, pada
suatu hari Haw menertawakan dirinya sendiri. “Haw (ha), Haw (ha), lihatlah
keadaan kita. Kita tetap melakukan hal yang sama terus menerus dan
bertanya-tanya mengapa keadaan tidak bertambah baik. Jika ini tidak bisa
dibilang konyol, pasti ada istilah yang lebih lucu lagi.”
Sebenarnya Haw
tidak menyukai ide untuk berlarian lagi di labirin, karena ia tahu akan tersesat
dan tidak tahu dimana ia akan menemukan Cheese. Namun ia harus
menertawakan kebodohannya, dan bagaimana rasa takutnya telah mempermainkan
dirinya.
Ia bertanya
kepada Hem, “Di manakah kita meletakkan sepatu lari kita?” Butuh waktu lama
untuk menemukannya, karena mereka telah memindahkan barang-barang saat
menemukan Cheese mereka di Cheese Station C, dan menurut
mereka saat itu, sepatu itu tidak akan diperlukan lagi.
Ketika Hem
melihat rekannya mulai mengenakan peralatan larinya, ia berkata, “Kamu tidak
serius akan berlarian di dalam labirin lagi kan? Mengapa tidak menunggu
saja di sini bersamaku sampai mereka menaruh Cheese lagi di
sini?”
“Karena, kamu
tidak memahaminya,” kata Haw. “Aku sebenarnya juga tidak ingin kembali ke sana,
Namun sekarang aku sadar mereka tidak akan pernah mengembalikan Cheese
yang lalu ke sini. Inilah saatnya menemukan Cheese
baru.”
Hem membantah,
“Tapi bagaimana jika di luar sana juga tidak ada Cheese? Atau kalaupun
ada, tapi kamu tidak bisa menemukannya?”
“Aku tidak tahu,”
jawab Haw. Ia sudah menanyakan pertanyaan yang sama kepada dirinya sendiri
berkali-kali dan merasakan ketakutannya muncul kembali. Ketakutan yang membuat
ia berada di tempat yang sama sampai saat ini.
Ia bertanya
kepada dirinya sendiri, “Di manakah kesempatan yang lebih besar untuk menemukan
Cheese, di sini atau di dalam Labirin?”
Ia membayangkan
sate gambar dalam angannya. Ia melihat dirinya sendiri keluar dari Labirin
dengan senyum di wajahnya.
Meskipun gambaran itu mengejutkannya,
namun hal itu membuatnya merasa lebih baik. Ia melihat dirinya tersesat
berkali-kali di dalam Labirin, namun cukup percaya diri bahwa akhirnya ia
menemukan Cheese baru di luar sana bersamaan dengan hal-hal baik yang
menyertainya. Ia mulai mengumpulkan keberaniannya.
Kemudian ia mulai menggunakan
imajinasinya untuk menggambarkan gambaran yang paling ia yakini—dengan detail
yang realistis—bahwa ia akan menemukan dan menikmati rasa Cheese
baru.
Ia melihat
dirinya sedang makan Cheese Swiss yang berlubang-lubang, dan Cheese
Amerika yang berwarna orange terang, Cheese mozzarella dari
Italia, dan lembutnya Cheese Perancis Camembert, serta… kemudian ia
mendengar Hem mengatakan sesuatu, dan menyadari bahwa mereka masih di dalam
Cheese Station C.
Haw berkata,
“Hem, kadangkala, sesuatu itu berubah dan mereka tidak akan pernah sama lagi.
Itulah hidup! Kehidupan terus berjalan dan kita pun harus
demikian.”
Haw melihat pada
rekannya yang diam saja dan mencoba menjelaskan pemikirannya kepadanya, akan
tetapi ketakutan Hem sudah berubah menjadi kemarahan dan ia tidak lagi mau
mendengarkan. Haw tidak bermaksud menyinggung temannya, akan tetapi ia harus
menertawakan betapa bodohnya mereka berdua.
Saat Haw
bersiap-siap untuk berangkat, ia mulai marasa lebih bergairah. Haw tertawa dan
mengumumkan, “Inilah waktunya ber-LABIRIN!”
Hem tidak tertawa dan juga tidak bereaksi.
Haw mengambil batu kecil yang tajam dan menuliskan
bahan untuk dipikirkan oleh Hem di dinding. Sama seperti kebiasaannya, Haw
bahkan menggambar Cheese di sekelilingnya, dengan harapan tulisan itu
bisa membuat Hem tersenyum, tergugah, dan mulai mengejar Cheese
Baru.
Tertulis:
JIKA ANDA TIDAK BERUBAH ANDA AKAN
PUNAH
Haw pernah punya
keyakinan bahwa bisa jadi di dalam sana tidak ada Cheese, dan mungkin
ia tidak akan pernah menemukannya. Keyakinan yang timbul karena ketakutannya
itu telah membekukan dan membunuhnya. Haw tersenyum. Ia tahu Hem pasti sedang
bertanya-tanya “Who Moved My Cheese?” namun saat ini Haw
sedang bertanya pula, “Mengapa aku tidak bangkit dan bergerak bersama Cheese
lebih awal?”
Saat ia mulai
masuk ke dalam labirin, Haw menoleh lagi ke belakang, dan bisa merasakan
kenyamanannya. Ia bisa merasakan dirinya ditarik ke daerah yang telah
dikenalnya dengan baik—walaupun ia sudah lama tidak lagi menemukan Cheese
di sana.
Haw menjadi lebih cemas dan bertanya-tanya apakah ia
benar-benar ingin pergi ke dalam labirin. Ia menuliskan sesuatu di dinding yang
ada di depannya dan menatapnya beberapa saat:
APA YANG ANDA LAKUKAN APABILA ANDA TIDAK
TAKUT?
Ia tahu kadang
rasa takut penting juga. Saat rasa takut menyerang, segala sesuatunya akan
menjadi semakin buruk jika kita tidak berbuat sesuatu, sehingga hal itu bisa
mendorong kita untuk melakukan sesuatu. Namun, rasa takut tak akan berguna jika
terlalu takut sehingga tidak berani melakukan apapun.
Ia melihat ke
sebelah kanannya, ke bagian labirin yang belum pernah dijelajahinya, dan rasa
takutnya pun mulai menyerang. Kemudian ia mengambil napas dalam-dalam, berbelok
ke kanan, masuk ke dalam labirin, sambil berlari-lari kecil menuju ke tempat
yang belum diketahuinya.
Saat ia mencoba
menemukan jalannya, pada mulanya Haw merasa khawatir, jangan-jangan ia sudah
terlalu lama menunggu di Cheese Station C. Ia sudah lama tidak makan
Cheese yang membuat keadaannya saat ini lemah. Ia memerlukan waktu yang
lebih lama, dan lebih sulit untuk berjalan di dalam labirin dibanding dulu. Ia
memutuskan, jika ia mendapat kesempatan sekali lagi, ia akan keluar dari zona
kenikmatannya dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi secepat mungkin.
Hal itu akan membuat segalanya lebih mudah.
Kemudian Haw
tersenyum simpul saat terlintas dalam pikirannya, “Lebih baik terlambat daripada
tidak sama sekali.”
Selama beberapa
hari Haw bisa menemukan sedikit Cheese di sini dan sedikit lagi di
sana, namun jumlahnya tidak cukup banyak untuk bertahan lama. Ia berharap bisa
menemukan Cheese dalam jumlah cukup besar, sehingga bisa dibawa kembali
ke tempat Hem berada dan untuk membujuknya keluar dan kembali masuk ke dalam
labirin.
Namun saat ini
Haw masih belum begitu percaya diri. Ia masih sering kebingungan di dalam
labirin. Banyak hal sudah berubah sejak terakhir kali ia masuk ke
sana.
Saat ia merasa
sudah mendapat kemajuan, tiba-tiba ia mendapati dirinya tersesat dalam
lorong-lorong labirin. Perkembangannya seperti maju dua langkah lalu mundur
lagi satu langkah. Itulah tantangannya, namun ia mengakui bahwa kembali ke
labirin, memburu Cheese, tidaklah seburuk yang ia takutkan
sebelumnya.
Setelah lewat beberapa waktu, ia
mulai bertanya-tanya, apakah cukup realistis jika ia berharap dapat menemukan
Cheese baru. Kemudian ia
tertawa, menyadari bahwa saat ini tak ada sesuatu yang bisa ia makan.
Setiap kali ia
merasa takut, ia mengingatkan diri sendiri akan apa yang sudah ia lakukan,
betapa tidak nyamannya saat itu, bahwa keadaan saat ini jauh lebih baik
dibanding dengan keadaan tanpa Cheese untuk dimakan. Kini ia memegang
kendali, tidak lagi pasrah pada keadaan.
Kemudian ia mengingatkan dirinya sendiri, jika Sniff
dan Scurry saja bisa berjalan terus, tentu ia juga bisa!
Kemudian, saat
Haw melihat kembali ke belakang, baru disadarinya bahwa lenyapnya Cheese
di Cheese Station C tidaklah terjadi begitu saja seperti yang
dipercayainya selama ini. Jumlah Cheese yang ada, memang semakin
berkurang, dan yang tertinggal pun sudah tua. Rasanya sudah tidak
enak.
Bahkan jamur pun
sudah bertumbuhan di atas cheese-cheese tua itu. Namun ia tidak begitu
memperhatikan. Diakuinya juga, jika ia menyempatkan diri memperhatikan hal-hal
tersebut, pasti ia sudah bisa menduga apa yang akan terjadi. Namun itu tidak ia
lakukan.
Sekarang Haw
sadar bahwa perubahan tidak akan mengejutkannya jika ia selalu memperhatikan
kejadian-kejadian yang ada dan mengantisipasi perubahan yang terjadi. Mungkin
itulah yang telah dilakukan oleh Sniff dan Scurry.
Ia memutuskan
untuk lebih waspada mulai sekarang. Ia akan menyongsong perubahan yang datang
dan mengatasinya. Ia akan lebih memperhatikan nalurinya untuk merasakan saat
perubahan akan terjadi dan mempersiapkan diri untuk menyesuaikan
diri.
Ia berhenti untuk
beristirahat dan menulis di dinding Labirin:
CIUMLAH CHEESE SESERING MUNGKIN SEHINGGA ANDA TAHU
SAAT IA MULAI MEMBUSUK
Beberapa waktu
kemudian, sesudah sekian lama tidak juga menemukan Cheese, Haw
menemukan sebuah Cheese Station besar yang tampak menjanjikan. Namun
saat ia masuk ke dalamnya, ia sangat kecewa karena ternyata
kosong.
“Perasaan kosong
ini sudah sering aku rasakan,” pikirnya. Ia merasa putus asa dan ingin menyerah
saja.
Kekuatan Haw jauh
menurun. Ia tahu ia tersesat dan takut kalau tidak bisa bertahan hidup. Ia
berpikir untuk berbalik arah dan kembali ke Cheese Station C. Paling
tidak jika ia kembali, dan Hem masih ada di sana, ia tidak akan sendirian.
Kemudian ia menanyakan pertanyaan yang sama lagi, “Apa yang akan saya lakukan
jika saya tidak takut?”
Haw merasa bahwa
ia sudah bisa mengatasi rasa takutnya, namun sebenamya ia lebih sering merasa
takut dibandingkan keberanian yang ia akui, bahkan pada dirinya sendiri. Ia
tidak selalu begitu yakin akan penyebab rasa takut itu, namun dalam kondisi yang
semakin lemah, ia tahu bahwa sebenarnya ia takut pergi sendiri. Haw tidak
mengetahuinya, hal itu terjadi karena rasa takut yang ditimbulkan oleh berbagai
macam kepercayaan yang diyakininya lebih mendominasi dirinya.
.Haw
bertanya-tanya apakah Hem juga sudah mulai bergerak, atau masih terbelenggu
oleh ketakutan-ketakutannya. Kemudian Haw ingat masa-masa terbaiknya saat
berada di tengah belantara labirin. Yaitu saat is terus
bergerak.
la menulis lagi
di dinding, karena tulisannya lebih merupakan pengingat bagi dirinya sendiri
dibanding sebagai petunjuk jalan bagi temannya si Hem, dengan harapan
diikuti:
GERAKAN KE ARAH BARU MEMBANTU ANDA MENEMUKAN CHEESE
BARU
Haw melihat jauh
ke jalan setapak yang gelap, dan ia sadar kalau ia takut. Apa yang ada di depan
sana? Apakah kosong? Atau bahkan lebih buruk lagi, ada bahaya mengancam? Ia
mulai membayangkan hal-hal yang menakutkan yang bisa terjadi pada dirinya. Ia
membuat dirinya sendiri ketakutan setengah mati.
Kemudian ia
tertawa sendiri. Ia sadar bahwa rasa takut akan membuat keadaan menjadi
bertambah buruk. Maka ia pun melakukan apa yang akan ia lakukan jika ia tidak
takut. Ia bergerak ke arah yang baru.
Saat ia mulai
berlari memasuki lorong yang gelap itu, ia pun tersenyum. Ia tidak menyadari
sebelumnya, namun ia menemukan hal yang menyejukkan jiwanya. Ia merelakan yang
telah terjadi dan mempercayai apa yang ada di depannya, meskipun ia tak tahu
apa yang menantinya di depan sana.
Di luar
perkiraannya, ia mulai menikmati apa yang dilakukannya. “Mengapa aku merasa
sangat senang?” Pikirnya keheranan. “Aku tidak punya Cheese
secuil pun dan tak tahu akan ke mana.”
Segera setelah
itu, ia tahu apa yang membuatnya bahagia.
Ia berhenti dan menulis lagi di dinding:
SAAT ANDA MENINGGALKAN RASA TAKUT DI BELAKANG ANDA AKAN MERASA
BEBAS
Haw menyadari
bahwa dirinya telah terbelenggu oleh rasa takutnya sendiri. Bergerak menuju arah
yang berbeda telah membebaskannya. Sekarang ia bisa merasakan tiupan angin
dingin yang menyegarkan di bagian labirin tersebut. Ia mengambil napas panjang
beberapa kali dan merasakan energi baru mengalir ke dalam tubuhnya. Begitu ia
bisa mengatasi rasa takutnya, ternyata berada di labirin terasa lebih
menyenangkan, berbeda dengan yang dulu dipercayainya.
Sudah lama Haw
tidak merasakan hal seperti itu. Bahkan ia sudah hampir lupa betapa
menyenangkannya mengejar Cheese.
Agar segalanya
menjadi lebih baik, Haw mulai melukis gambar angan-angannya lagi. Ia melihat
dirinya secara utuh sedang duduk di tengah tumpukan Cheese
kesukaannya—baik Cheddar maupun Brie! Ia melihat dirinya makan Cheese
favoritnya sebanyak ia mau, dan ia menikmati pemandangan yang dilihatnya.
Kemudian ia membayangkan bagaimana puasnya ia bisa merasakan rasa
Cheese yang enak-enak itu.
Semakin jelas ia
melihat bayangan dirinya menikmati Cheese baru, semakin nyata dan yakin
bahwa hal itu bisa didapatkannya. Ia bisa merasakan bahwa ia memperoleh
semuanya.
Ia
menulis:
MEMBAYANGKAN DIRIKU SENDIRI SEDANG MENIKMATI CHEESE
BARU, BAHKAN SEBELUM AKU MENEMUKANNYA, TELAH MENGARAHKAN AKU
KEPADANYA
Haw tidak lagi berpikir tentang kerugian yang bakal
ia derita, sebagai gantinya ia memikirkan tentang apa yang akan ia
peroleh.
Ia terheran-heran
mengapa sebelumnya ia selalu berpikir bahwa perubahan akan selalu berakibat
buruk. Sekarang ia menyadari bahwa perubahan bisa mengarah ke sesuatu yang
lebih baik.
“Mengapa aku
tidak bisa melihat hal ini sebelumnya?” tanyanya pada diri
sendiri.
Dan kemudian ia
pun berlari sepanjang labirin dengan kekuatan dan semangat yang jauh lebih
besar dari sebelumnya. Tak lama kemudian ia menemukan Cheese Station
dan sangat gembira ketika melihat ada sepotong Cheese Baru
terlihat di dekat pintu masuk.
Ada berbagai jenis
Cheese yang belum pernah ia lihat sebelumnya, namun semuanya kelihatan
enak. Ia mencobanya dan ternyata memang enak.
Ia memakan hampir seluruh Cheese baru yang
ada dan menyimpan sedikit di kantongnya untuk dimakan kemudian atau bahkan
untuk dibagikan kepada Hem. Kekuatannya pun mulai pulih.
Ia memasuki
Cheese Station baru itu dengan penuh kegembiraan. Namun, ternyata di
dalamnya kosong, sungguh mengecewakan. Seseorang sudah lebih dulu menghabiskan
Cheese di situ dan hanya meninggalkan kepingan-kepingan kecil
Cheese baru.
Ia menyadari
bahwa jika saja ia bergerak lebih cepat, ia akan menemukan banyak Cheese
baru di sini.
Haw memutuskan
untuk kembali dan akan melihat apakah Hem sudah siap untuk
bergabung.
Saat ia berbalik ke jalan yang pemah dilewatinya, ia
berhenti dan menulis di dinding:
SEMAKIN CEPAT ANDA MELUPAKAN CHEESE LAMA SEMAKIN
CEPAT ANDA MENEMUKAN CHEESE BARU
Beberapa saat
kemudian Haw kembali ke Cheese Station C dan menemukan Hem di sana. Ia
menawarkan sepotong Cheese baru, namun ditolak.
Hem menghargai
tawaran temannya itu, namun katanya, “Kupikir aku tidak akan suka Cheese
baru. Itu bukan yang biasa aku makan. Aku ingin Cheese-ku kembali
dan aku tidak akan berubah sampai aku dapatkan yang aku mau.”
Haw hanya bisa
menggelengkan kepalanya, kecewa, dan dengan enggan kembali keluar seorang diri.
Saat ia tiba kembali di ujung tempat terjauh yang pernah ia jelajahi, ia pun
merasa kehilangan teman, namun menyadari ia menyukai apa yang sedang
ditemukannya. Bahkan sebelum menemukan impiannya, persediaan Cheese
baru yang banyak, jika ada, ia tahu bahwa yang membuatnya bahagia bukanlah
hanya memiliki Cheese.
Ia bahagia karena
tidak dikejar-kejar oleh rasa takutnya. Ia menyukai apa yang sedang ia lakukan
sekarang.
Menyadari hal
ini, Haw tidak lagi merasa selemah saat ia masih tinggal di Cheese Station
C tanpa Cheese. Kesadaran bahwa ia tidak akan
membiarkan rasa takutnya
menghentikannya dan bahwa ia sekarang menuju ke arah baru membuat Haw
bersemangat dan merasa kuat.
Sekarang ia
merasa bahwa tinggal menunggu waktu saja sebelum ia menemukan yang ia butuhkan.
Bahkan ia sudah bisa merasakan ia telah menemukan apa yang ia
cari.
Ia tersenyum saat menyadari:
JAUH LEBIH AMAN PERGI MENCARI CHEESE DI LABIRIN
DIBANDING TETAP BERTAHAN DALAM KEADAAN TANPA
CHEESE
Haw kembali
menyadari, seperti yang pernah ia rasakan sebelumnya, yaitu bahwa apa yang kita
takutkan tidaklah seburuk yang kita bayangkan. Ketakutan yang kita biarkan
berkembang dalam pikiran kita jauh lebih buruk daripada kenyataan
sebenarnya.
Ia pernah sangat
takut kalau-kalau tidak bisa menemukan Cheese lagi, dan oleh karenanya
ia takut untuk mulai mencari. Namun sejak ia memulai perjalanannya ia menemukan
cukup banyak Cheese di lorong-lorong untuk membantunya bertahan. Dan
sekarang ia berencana untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Hanya berencana saja
sudah membuatnya bergairah.
Pemikirannya di
masa lalu telah tertutup oleh awan kecemasan dan ketakutannya. Ia pernah
berpikir akan kekurangan Cheese, atau Cheese-nya tidak bisa
bertahan lama. Ia juga lebih banyak berpikir tentang akibat buruk apa yang
akan terjadi dibandingkan kebaikan apa yang bisa ia peroleh.
Namun hal itu
sudah berubah saat ia meninggalkan Cheese Station C.
Ia pernah punya
keyakinan bahwa Cheese sebaiknya tidak boleh dipindahkan dan perubahan
adalah sesuatu yang salah.
Saat ini ia menyadari bahwa perubahan akan selalu
terjadi, baik kita mengharapkannya atau tidak. Perubahan hanya bisa mengagetkan
kita jika kita tidak mengharapkannya dan tidak memperkirakannya.
Saat menyadari bahwa keyakinannya telah berubah, ia
berhenti untuk menulis di dinding:
KEYAKINAN LAMA TIDAK AKAN MEMBAWA KEPADA CHEESE
BARU
Haw belum lagi
menemukan Cheese, namun saat ia berlarian di dalam Labirin, ia
memikirkan pelajaran-pelajaran yang ia dapatkan.
Haw sekarang
sadar bahwa keyakinan barunya membentuk perilaku yang baru pula. Tindakannya
saat ini sangat berbeda dengan apa yang ia lakukan saat masih bolak balik ke
station cheese yang kosong dulu.
Ia tahu saat Anda
mengubah keyakinan Anda maka tindakan Anda pun berubah.
Bisa saja Anda
percaya bahwa perubahan akan mencelakakan Anda sehingga Anda menolaknya. Namun
bisa pula Anda berkeyakinan bahwa menemukan Cheese baru akan sangat
membantu Anda, oleh karena itu Anda menyambut perubahan yang
terjadi.
Itu semua tergantung dari pilihan keyakinan
Anda.
Ia menulis di
dinding:
JIKA ANDA SADAR BAHWA ANDA BISA MENEMUKAN DAN MENIKMATI
CHEESE BARU MAKA ANDA AKAN MENGUBAH
HALUAN
Haw mengakui jika
saja ia lebih cepat mengatasi perubahan yang terjadi dan meninggalkan Cheese
Station C dari awal, mungkin keadaannya sudah lebih baik. Ia akan merasa
lebih kuat dan sehat lahir batin serta siap menghadapi tantangan pencarian
Cheese baru. Bahkan, mungkin ia sudah menemukannya sekarang jika saja
ia siap mengantisipasi perubahan, daripada membuang waktu untuk menyangkal
bahwa perubahan sudah datang.
Ia menggunakan
imajinasinya lagi dan melihat dirinya telah menemukan Cheese baru dan
sedang menikmatinya. Ia memutuskan untuk terus menjelajahi bagian-bagian yang
belum diketahuinya di dalam Labirin, dan menemukan sedikit Cheese di
sana-sini. Haw pun mulai mendapatkan kembali kekuatan dan kepercayaan
dirinya.
Saat ia
memikirkan tempat asalnya dulu, Haw merasa gembira karena telah menulisi dinding
labirin di beberapa tempat. Ia yakin tulisan-tulisan itu bisa menjadi petunjuk
jalan bagi Hem, jika ia memutuskan untuk meninggalkan Cheese Station
C.
Haw hanya berharap ia menuju ke arah yang benar. Ia
memikirkan tentang kemungkinan Hem membaca Tulisan Tangan di Dinding dan
menemukan jalannya.
Ia menulis di dinding, suatu hal yang telah berulang
kali dipikirkannya:
MEMPERHATIKAN PERUBAHAN-PERUBAHAN KECIL SEJAK AWAL AKAN
MEMBANTU ANDA MENYESUAIKAN DIRI TERHADAP PERUBAHAN BESAR YANG AKAN
MUNCUL
Saat ini, Haw
telah bisa melupakan masa lalu dan menyesuaikan diri dengan situasi
sekarang.
la meneruskan
pencariannya di dalam labirin dengan kekuatan dan kecepatan yang terus
bertambah. Dan tak lama kemudian, terjadilah….
Saat ia merasa
bahwa ia akan terjebak dalam labirin selamanya, perjalanannya—atau setidaknya
perjalanannya saat ini—berakhir dengan cepat dan
menggembirakan.
Haw menyusuri sebuah lorong yang belum pernah
dimasukinya, berbelok, dan ia menemukan Cheese baru di Cheese
Station N!
Saat ia masuk,
pemandangan di depannya membuatnya sangat terkejut. Tumpukan Cheese
tampak ada di mana-mana, benar-benar persediaan Cheese terbesar
yang pernah dilihatnya. Tidak semua Cheese dikenalnya, karena beberapa
di antara Cheese tersebut ada yang baru kali ini dilihatnya. Untuk
sesaat ia bertanya-tanya apakah ini benar-benar terjadi atau hanya khayalannya
saja, sampai ia melihat dua teman lamanya, Sniff dan Scurry.
Sniff
menyambutnya dengan anggukan kepala, dan Scurry melambaikan cakarnya. Perut
mereka yang membuncit menunjukkan bahwa mereka sudah cukup lama berada di
sana.
Haw dengan cepat
membalas salam itu dan segera mencicipi semua Cheese kesukaannya. Ia
melepas sepatu larinya, mengikat kedua talinya, dan mengalungkannya di leher.
Sniff dan Scurry tertawa. Mereka menganggukkan kepala tanda setuju. Kemudian
Haw menerjang Cheese Baru. Saat ia sudah kenyang, diangkatnya sepotong
Cheese segar dan bersulang. “Selamat untuk
Cheese!“
Saat Haw
menikmati Cheese-nya, ia mengingat-ingat kembali pelajaran
yang diperolehnya.
Ia sadar saat ia
merasa takut berubah ia terbelenggu oleh bayangan mengenai Cheese lama
yang sebetulnya sudah tidak ada lagi.
Jadi apa yang
membuatnya berubah? Apakah rasa takut akan coati kelaparan? Haw tersenyum,
karena hal semacam itu kadang bisa membantu juga.
Kemudian ia
tertawa dan menyadari bahwa ia mulai berubah saat la belajar untuk menertawakan
dirinya sendin atas kesalahan yang ia lakukan. Ia sadar bahwa cara tercepat
untuk berubah adalah dengan menertawakan kebodohan diri sendiri—sehingga kita
bisa merelakan, melupakan, dan dengan cepat mulai bergerak.
Ia tahu, ia telah
belajar hal yang sangat berguna dari rekan tikusnya, Sniff dan Scurry. Mereka
membuat hidup ini sederhana. Mereka tidak memperumit masalah. Saat situasi
berubah dan Cheese dipindahkan, mereka berubah dan bergerak mengikuti
Cheese. la akan mengingat hal itu.
Haw juga
menggunakan otaknya yang luar biasa untuk melakukan hal yang bisa dilakukan
lebih baik oleh kurcaci dibandingkan tikus.
Ia juga menyadari
bahwa halangan terbesar untuk berubah terletak di dalam diri sendiri, dan
masalahnya tidak akan membaik jika tidak berubah.
Mungkin yang
paling penting adalah selalu ada Cheese baru di luar sana baik disadari
maupun tidak. Dan itu baru bisa didapatkan setelah mengatasi rasa takut dan
menikmati petualangan.
Ia tahu rasa
takut itu penting, karena akan menjauhkan kita dari bahaya. Namun ia menyadari
sebagian besar ketakutannya tidak masuk akal dan menghalanginya untuk berubah
saat diperlukan.
Saat itu ia tidak
menyukai perubahan, Namun ternyata perubahan tersebut menjadi suatu karunia
yang mengantarnya menemukan Cheese yang lebih baik.
Saat Haw
mengingat-ingat hal yang telah dipelajarinya, ia teringat temannya Hem. Ia
bertanya-tanya apakah Hem sudah membaca pesan-pesan yang ia tuliskan di dinding
Cheese Station C dan labirin. Apakah Hem sudah memutuskan untuk
merelakan dan mulai bergerak? Apakah ia telah masuk ke dalam Labirin dan
menemukan hal-hal yang membuat hidupnya lebih baik? Ataukah Hem tetap saja
membatu karena ia tidak mau berubah?
Haw berpikir
untuk kembali lagi ke Cheese Station C untuk melihat apakah Hem masih
ada di sana—dengan asumsi ia masih bisa mengingat jalan kembali. Jika ia
menemukan Cheese di sana, ia mungkin bisa menunjukkan cara bagaimana ia
bisa keluar dari kesulitan yang dihadapinya. Namun Haw juga sadar bahwa ia sudah
rernah mencoba untuk membuat temannya itu berubah.
Hem harus bisa
menemukan jalannya sendiri, keluar dari rasa nyamannya dan mengatasi rasa
takutnya. Tak ada seorang pun yang bisa melakukan hal itu untuknya atau
membujuknya. Ia harus bisa melihat keuntungan dari perubahan yang terjadi bagi
dirinya.
Haw tabu bahwa ia sudah meninggalkan petunjuk jalan
bagi Hem dengan itu ia pasti bisa menemukan jalan, yang diperlukan hanya membaca
tulisan tangannya di dinding.
Ia menghentikan lamunannya dan menulis ringkasan
pelajaran yang diperolehnya di dinding terbesar di Cheese Station N.
Digambarnya potongan Cheese yang besar di sekeliling
kebenaran-kebenaran yang diperolehnya, dan ia tersenyum saat melihat apa yang
telah ia dapatkan:
PERUBAHAN SELALU TERJADI, MAKA PERHATIKAN PERUBAHAN DAN
BERSIAPLAH UNTUK MENGANTISIPASINYA. SESUAIKAN DIRI DENGAN CEPAT, BERUBAHLAH
SEIRING PERUBAHAN DAN NIKMATILAH PETUALANGAN MENGARUNGI PERUBAHAN
TERSEBUT.
Haw tahu ia telah
banyak berubah sejak terakhir kali ia bersama Hem di Station Cheese C,
namun ia juga sadar bahwa dengan mudah ia bisa kembali ke kebiasaan lama
jika ia merasa terlalu nyaman. Oleh karena itu, setiap hari ia memeriksa
Station Cheese N untuk melihat keadaan Cheese-nya. la
melakukan segalanya agar perubahan tidak lagi mengejutkannya.
Meskipun Haw
mempunyai persediaan Cheese yang sangat banyak, ia masih sering
menjelajahi labirin dan mendatangi daerah-daerah baru, sehingga ia akan tetap
tahu apa yang terjadi di sekitarnya. Menurutnya jauh lebih aman jika ia
menyadari pilihan-pilihan yang ada di depannya dibandingkan mengunci diri dalam
zona kenyamanannya sendiri.
Kemudian, Haw
mendengar suara yang menurutnya berasal dari dalam labirin. Saat suara ribut
itu semakin keras terdengar, ia sadar bahwa seseorang sedang menuju ke
sana.
Hemkah yang
datang? Diakah yang akan muncul di belokan sana?
Haw
berharap—seperti yang sering ia lakukan selama ini—bahwa mungkin akhirnya
temannya mampu untuk…
BERGERAK BERSAMA CHEESE DAN
MENIKMATINYA!
Tamat… ataukah sebuah awal yang
baru?
Oleh : Adni Kurniawan
Sumber :
http://adniku.com/2007/11/who-moved-my-cheese-bag-1/
http://adniku.com/2007/11/who-moved-my-cheese-bag-2-selesai/
Oleh : Adni Kurniawan
Sumber :
http://adniku.com/2007/11/who-moved-my-cheese-bag-1/
http://adniku.com/2007/11/who-moved-my-cheese-bag-2-selesai/
Komentar
Posting Komentar