Kejernihan Pikiran
Sepasang muda mudi yang baru menikah, menempati rumah
di sebuah komplek perumahan. Suatu pagi, sewaktu sarapan, melalui jendela
kacanya si istri melihat tetangganya sedang menjemur kain. “Cuciannya kelihatan
kurang bersih ya Pah”, kata sang istri. “Sepertinya dia tidak tahu cara mencuci
pakaian dengan benar. Mungkin dia perlu sabun cuci yang lebih bagus”, lanjut si
istri berkomentar. Suaminya menoleh, tetapi hanya diam dan tidak memberi
komentar apapun.
Sejak hari
itu setiap tetangganya menjemur pakaian, selalu saja sang istri memberikan
komentar yang sama mengenai si tetangga yang dinilai kurang bersih mencuci
pakaian. Dan seperti biasa sang suami diam dan tidak berkata apapun.
Seminggu
berlalu, sang istri heran melihat pakaian-pakaian yang dijemur oleh tetangganya
bersih cemerlang dan terlihat tanpa noda, dan dia pun berkata kepada suaminya:
“Pah, lihat, sepertinya dia telah belajar bagaimana mencuci dengan benar. Siapa
ya kira-kira yang sudah mengajarinya? Mungkin suaminya memarahi dia sehingga dia
akhirnya belajar bagaimana caranya mencuci baju dengan benar”.
Sang suami
berkata, “Saya bangun pagi-pagi sekali hari ini dan membersihkan jendela kaca
kita, Mah.”
Kita
seringkali tidak sadar akan apa yang terjadi pada diri kita sendiri. Lebih
parahnya lagi kita menggunakan hal tersebut untuk menilai orang lain. Bisa
diibaratkan kita masing-masing menggunakan sebuah “kaca mata”. Jika kita
menggunakan kaca mata hitam maka semua yang kita lihat menjadi tampak hitam.
Oleh : Arie Sandi
Sumber : http://www.ariesandi.com/personal-success/kejernihan-pikiran-2/
Oleh : Arie Sandi
Sumber : http://www.ariesandi.com/personal-success/kejernihan-pikiran-2/
Komentar
Posting Komentar