Secangkir Coklat Panas
Profesor itu menyajikan coklat panas pada
tamu-tamunya. Ia pergi ke dapur dan kembali dengan coklat panas di teko yang
besar dan berbagai macam cangkir: porselen, gelas, kristal, dan lain-lain;
sebagiannya bagus dan berharga mahal, akan tetapi sebagian lagi bentuknya biasa
saja harganya murah. Ia mengatakan kepada mereka untuk mengambil sendiri coklat
panas tersebut.
Ketika mereka semua memegang secangkir coklat panas
di tangan mereka, profesor yang bijak berkata, “Perhatikan, semua cangkir yang
bagus dan mahal telah diambil. Yang tersisa, hanyalah cangkir yang biasa dan
murah. Memang, adalah normal bagi kalian untuk menginginkan yang terbaik. Namun,
itu adalah sumber dari masalah dan stres kalian.”
“Cangkir tidak menambahkan kualitas dari coklat
panas. Pada kebanyakan kasus, itu hanya menambah mahal, dan bahkan
menyembunyikan apa yang kita minum. Apa yang kalian inginkan sebenarnya adalah
coklat panas, bukan cangkirnya. Tetapi secara tidak sadar kalian menginginkan
cangkir yang terbaik. Lalu, kalian mulai saling melihat dan membandingkan
cangkir kalian masing-masing.”
Para alumni terdiam, menyimak nasehat dari
profesor.
“Sekarang pikirkan ini: Kehidupan adalah coklat
panas. Sedangkan Pekerjaan, Uang, dan Kedudukan adalah cangkirnya. Itu hanyalah
alat untuk memegang dan memuaskan kehidupan. Cangkir yang kau miliki tidak akan
menggambarkan, atau mengubah kualitas kehidupan yang kalian
miliki.”
“Terkadang, dengan memusatkan perhatian kita hanya
pada cangkirnya, kita gagal untuk menikmati coklat panas yang telah Alloh
sediakan bagi kita. Alloh menyediakan coklat panasnya, tetapi manusia memilih
cangkirnya. Orang-orang yang paling bahagia tidak memiliki semua yang terbaik.
Mereka hanya berbuat yang terbaik dari apa yang mereka miliki.”
Profesor itu berhenti sejenak, menghela nafas, lalu
melanjutkan, “Hiduplah dengan sederhana. Bermurah hatilah. Perhatikanlah sesama
dengan sungguh-sungguh. Dan akhirnya, silakan nikmati coklat panas
kalian.”
Salam,
Penulis: Ustadz Adni Kurniawan, Lc.
Artikel www.PengusahaMuslim.com
Abu Sa’id al-Khudri radhiyallohu 'anhu
menyampaikan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang
mulia:
وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ
“Siapa yang menjaga kehormatan dirinya—dengan tidak meminta kepada manusia dan berambisi untuk beroleh apa yang ada di tangan mereka—Alloh 'Azza wa Jalla akan menganugerahkan kepadanya iffah (kehormatan diri). Siapa yang merasa cukup, Alloh 'Azza wa Jalla akan mencukupinya (sehingga jiwanya kaya/merasa cukup dan dibukakan untuknya pintu-pintu rezeki). Siapa yang menyabarkan dirinya, Alloh 'Azza wa Jalla akan menjadikannya sabar. Tidaklah seseorang diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.”
وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ
“Siapa yang menjaga kehormatan dirinya—dengan tidak meminta kepada manusia dan berambisi untuk beroleh apa yang ada di tangan mereka—Alloh 'Azza wa Jalla akan menganugerahkan kepadanya iffah (kehormatan diri). Siapa yang merasa cukup, Alloh 'Azza wa Jalla akan mencukupinya (sehingga jiwanya kaya/merasa cukup dan dibukakan untuknya pintu-pintu rezeki). Siapa yang menyabarkan dirinya, Alloh 'Azza wa Jalla akan menjadikannya sabar. Tidaklah seseorang diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.”
(HR. Al-Bukhari no. 1469 dan Muslim no.
2421)
Nabi kita shallallahu 'alaihi wa sallam
menjelaskan,
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ
الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
"Kekayaan tidaklah diukur dengan banyaknya harta,
namun kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati." (HR. Bukhari dan Muslim; dari
Abu Hurairah)

Komentar
Posting Komentar